thefrancescaharperproject.org – Army Ares Story Mitos Penuh 2 Pengkhianatan Cerita tentang perang itu nggak selalu soal benturan senjata dan teriakan kemenangan. Kadang yang paling berisik justru bisikan di belakang tenda, janji manis yang berujung tikaman, dan sumpah setia yang berubah jadi debu. Army of Ares lahir dari kekacauan semacam itu. Bukan kisah suci yang rapi, tapi legenda liar yang dipenuhi amarah, dendam, dan pengkhianatan tanpa ampun.
Legenda Pasukan Dewa Perang yang Retak oleh Pengkhianatan
Army Ares dikenal sebagai barisan yang ditakuti bahkan sebelum pedang mereka terhunus. Mereka bukan pasukan biasa, tapi kumpulan prajurit yang dibentuk dari kemarahan, ambisi, dan sumpah darah. Di bawah nama Ares, mereka bergerak seperti badai datang tanpa aba-aba, pergi meninggalkan puing dan jeritan cnnslot. Namun di balik keganasan itu, ada cerita busuk yang jarang dibicarakan. Cerita tentang kepercayaan yang dijual murah dan kesetiaan yang dibajak oleh rasa iri.
Api Amarah yang Membentuk Army of Ares
Army of Ares tidak lahir dari rencana matang atau rapat panjang. Mereka muncul dari kekacauan. Ares, dewa perang yang terkenal temperamental, mengumpulkan prajurit yang punya satu kesamaan: haus pengakuan. Mereka datang dari berbagai latar, ada yang bekas budak, ada pula bangsawan buangan. Semua disatukan oleh janji sederhana—kekuatan dan nama besar.
Di awal, api amarah itu terasa murni. Setiap anggota percaya mereka berdiri di sisi yang sama. Tidak ada hierarki kaku, hanya siapa yang paling berani dan paling kejam di medan laga. Army of Ares tumbuh cepat, reputasinya melesat, dan nama mereka jadi bisikan menakutkan di antara kota-kota mitos.
Namun api yang terlalu besar sering kali membakar dari dalam. Ambisi mulai saling bertabrakan. Beberapa prajurit merasa mereka layak lebih dihormati, sementara yang lain mulai curiga bahwa Ares hanya memanfaatkan mereka sebagai alat pelampiasan emosinya.
Janji Darah yang Mulai Retak
Sumpah darah adalah fondasi Army of Ares. Setiap prajurit bersumpah setia bukan hanya pada Ares, tapi juga satu sama lain. Tapi sumpah tidak selalu lebih kuat dari rasa iri. Ketika kemenangan demi kemenangan diraih, pembagian kehormatan jadi sumber masalah.
Ada nama-nama yang terus disebut, ada pula yang terlupakan. Dari situlah benih pengkhianatan tumbuh. Bisikan kecil berubah jadi rencana licik. Beberapa komandan mulai bermain dua kaki, diam-diam mengirim pesan pada pihak lain, berharap bisa naik posisi saat kekacauan pecah.
Ironisnya, Ares yang dikenal sebagai simbol perang justru sering menutup mata. Amarahnya lebih tertuju ke musuh di luar, bukan racun di dalam pasukannya sendiri.
Intrik Para Dewa dan Tekanan dari Atas
Army of Ares tidak bergerak di ruang kosong. Dunia para dewa penuh dengan persaingan. Zeus memandang Ares dengan campuran curiga dan jengkel. Kekuatan Army of Ares dianggap terlalu liar, sulit dikendalikan. Sementara Athena sering menyindir bahwa perang tanpa kendali hanya menghasilkan kehancuran tanpa arah.
Tekanan dari para dewa lain membuat posisi Ares semakin rumit. Beberapa anggota Army of Ares melihat celah ini sebagai kesempatan. Jika Ares jatuh, siapa yang akan menggantikannya? Pertanyaan itu berputar di kepala banyak prajurit, dan tidak semuanya berniat menunggu jawaban resmi dari langit.
Malam Pengkhianatan Besar

Puncak kehancuran Army of Ares terjadi pada satu malam yang kelam. Tidak ada terompet perang, tidak ada teriakan serbuan. Yang ada hanya suara langkah pelan dan baja yang disarungkan diam-diam. Beberapa komandan bersekongkol, memutuskan bahwa sudah waktunya menggulingkan kepemimpinan yang mereka anggap tak adil.
Serangan itu tidak ditujukan pada musuh, melainkan pada sesama. Tenda-tenda terbakar, prajurit saling curiga, dan garis antara kawan serta lawan menghilang. Ares murka, tapi kemarahannya datang terlambat. Army of Ares yang dulu solid berubah jadi kumpulan kelompok kecil yang saling mencakar.
Pengkhianatan itu tidak sepenuhnya berhasil, tapi cukup untuk menghancurkan kepercayaan yang tersisa.
Sisa-Sisa Pasukan dan Luka yang Tidak Sembuh
Setelah malam itu, Army of Ares tidak pernah benar-benar sama. Banyak prajurit memilih pergi, membawa cerita pahit dan dendam pribadi. Ada yang tetap setia, percaya bahwa kekacauan adalah bagian dari takdir perang. Ada pula yang menunggu saat tepat untuk membalas perlakuan lama.
Ares sendiri berubah. Amarahnya tidak lagi meledak-ledak seperti dulu, melainkan dingin dan berbahaya. Ia mulai memperlakukan pasukannya dengan jarak, seolah tidak ingin lagi dikhianati oleh orang-orang yang ia anggap saudara.
Warisan Kelam Army of Ares
Meski retak, nama Army of Ares tetap hidup dalam legenda. Mereka dikenang bukan hanya karena kemenangan brutal, tapi juga karena kejatuhan yang tragis. Kisah mereka sering dijadikan peringatan bahwa kekuatan tanpa kepercayaan hanyalah bom waktu.
Banyak pasukan lain mencoba meniru gaya Army of Ares, tapi sedikit yang berani mengulang sumpah darah mereka. Pengkhianatan yang terjadi telah menjadi bayangan panjang yang terus mengikuti setiap cerita tentang Ares dan pasukannya.
Kesimpulan
Army of Ares adalah gambaran mentah tentang perang dalam bentuk paling jujur penuh amarah, ambisi, dan pengkhianatan. Mereka bukan legenda bersih yang dipoles agar terlihat heroik. Justru dari retakan dan luka itulah cerita mereka terasa hidup. Dalam mitos Army of Ares, kemenangan tidak selalu berarti kejayaan, dan kesetiaan bisa runtuh kapan saja. Kisah ini mengingatkan bahwa bahkan pasukan terkuat pun bisa hancur bukan karena musuh, tapi karena racun yang tumbuh di dalam barisan sendiri.
